MAKALAH
ASUHAN KEPERAWATAN
KLIEN DENGAN GANGGUAN HIPERTENSI
Untuk Memenuhi Tugas
Kelompok Sistem Kardiovaskuler
Dosen
Pengampu: Ns. Andy Sofyan
M.Kep.
Nama Kelompok:
1.
Arum Lestari
2.
Dian Novitasari
3.
Ifa Susiana
4.
Liftriyantri
5.
Nor Qoyyum
6.
Risma Novitasari
7.
Vina Noor Vatimatun N
8.
Zuhairotul Auliya
Kelas
: PSIK
3A
SEKOLAH TINGGI ILMU
KESEHATAN CENDEKIA UTAMA KUDUS
PROGRAM STUDI ILMU
KEPERAWATAN
2012/2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur
kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, karunia serta hidayah-Nya
kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Asuhan
Keperawatan Klien Dengan Gangguan Hipertensi” dengan sebaik-baiknya.
Makalah ini, kami susun untuk memberikan informasi kepada pembaca mengenai Gangguan Hipertensi. Disamping itu penulisan
makalah ini
disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Kardiovaskuler di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Program Studi
Keperawatan semester 3 STIKES Cendekia Utama Kudus.
Dalam penyusunan makalah ini, kami telah mengalami
berbagai hal baik suka maupun duka. Kami menyadari bahwa penyusunan makalah
ini tidak akan selesai dengan lancar dan
tepat waktu tanpa adanya bantuan, dorongan, serta bimbingan dari berbagai
pihak. Sebagai rasa syukur atas terselesainya makalah ini, maka dengan
setulusnya kami sampaikan terima kasih kepada yang terhormat Bapak Andy Sofyan M.Kep. selaku guru pembimbing, serta pihak-pihak yang turut
membantu yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu. Tidak ada manusia yang
sempurna, dalam makalah ini masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki
sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun akan kami terima.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat
menambah khasanah keilmuan dalam bidang kesehatan dan dapat memberi pengetahuan
memberikan asuhan keperawatan dengan benar pada penderita hipertensi.
Kudus,
26 Oktober 2012
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL …………………………………………………………...i
KATA
PENGANTAR ………………………………………………………….ii
DAFTAR
ISI …………………………………………………………………...iii
BAB
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
…………………………………………....1
1.2 Tujuan Penulisan …………………………………………………...2
BAB
II KAJIAN PUSTAKA
8.1 Anatomi & Fisiologi hipertensi……………………………………....3
8.2 Definisi Hipertensi
..............................................................................6
8.3 Klasifikasi …………………………………………………………...6
8.4 Etiologi ……………………………………………………………...8
8.5 Manifestasi Klinis …………………………………………………...8
8.6 Patofisiologi ………………………………………………………....8
8.7 Pathway ……………………………………………………………10
8.8 Komplikasi ………………………………………………………....10
8.9 Pemeriksaan Penunjang …………………………………………….11
8.10
Penatalaksanaan
………………………………………………...12
BAB
III ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pemeriksaan Fisik …………………………………………………..14
3.2 Diagnosa Keperawatan
……………………………………………..16
3.3 Intervensi & Rasional tindakan
..........................................................16
BAB
IV PENUTUP
4.1 Simpulan ……………………………………………………………22
4.2 Saran ..................................................................................................22
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dewasa ini
masyarakat sudah tidak asing lagi mendengar kata Hipertensi. Hipertensi
merupakan salah satu penyakit yang umum dijumpai di masyarakat, dan merupakan penyakit yang terkait
dengan sistem kardiovaskuler. Hipertensi memang bukan penyakit menular, namun kita juga
tidak bisa menganggapnya sepele, selayaknya kita harus senantiasa waspada.
Tekanan
Darah tinggi atau Hipertesi dan arterosclerosis (pengerasan arteri) adalah dua
kondisi pokok yang mendasari banyak bentuk penyakit kardiovaskuler. Lebih jauh,
tidak jarang tekanan darah tinggi juga menyebabkan gangguan ginjal. Sampai saat
ini, usaha-usaha baik untuk mencegah maupun mengobati penyakit hipertensi belum
berhasil sepenuhnya, hal ini dikarenakan banyak faktor penghambat yang mempengaruhi seperti kurang
pengetahuan tentang hipertensi (pengertian, klasifikasi, tanda dan gejala,
sebab akibat, komplikasi) dan juga perawatannya.
Saat ini,
angka kematian karena hipertensi di Indonesia sangat tinggi. Hipertensi
merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah stroke dan tuberkulosis,
yakni mencapai 6,7% dari populasi kematian pada semua umur di Indonesia.
Hipertensi merupakan gangguan sistem peredaran darah yang menyebabkan kenaikan
tekanan darah di atas normal, yaitu 140/90 mmHg. Hasil Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) Balitbangkes tahun 2007 menunjukan prevalensi hipertensi secara
nasional mencapai 31,7% (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia).
Dari
jumlah itu, 60%
penderita hipertensi berakhir pada stroke. Sedangkan sisanya pada jantung,
gagal ginjal, dan kebutaan. Sementara di dunia Barat, hipertensi justru banyak
menimbulkan gagal ginjal, oleh karena perlu diadakan upaya-upaya untuk menekan
angka peyakit hipertensi terlebih bagi penderita hipertensi perlu diberikan
perawatan dan pengobatan yang tepat agar tidak menimbukan komplikasi yang
semakin parah. Selain itu pentingnya pemberian asuhan keperawatan pada pasien
hipertensi juga sangat diperlukan untuk melakukan implementasi yang benar pada
pasien hipertensi.
Diharapkan
dengan dibuatnya makalah tentang asuhan keperawatan klien dengan gangguan
hipertensi ini dapat memberi asuhan keperawatan yang tepat dan benar bagi
penderita hipertensi dan dapat mengurangi angka kesakitan serta kematian karena hipertensi dalam
masyarakat.
1.2 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah
sebagai berikut:
a. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu
memahami konsep asuhan keperawatan pada pasien hipertensi
b. Tujuan Khusus
1) Memaparkan konsep penyakit hipertensi
yang meliputi anatomi dan fisiologi penyakit jantung, definisi, klasifikasi,
etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, pathway, komplikasi, pemeriksaan
penunjang, penatalaksanaan medis, keperawatan dan diet
2) Memahami asuhan keperawatan pada pasien
hipertensi dengan metodologi
asuhan keperawatan yang benar
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Anatomi dan Fisiologi Hipertensi
a. Anatomi
1) Jantung
Berukuran sekitar satu
kepalan tangan dan terletak di dalam dada, batas kanannya terdapat pada sternum
kanan dan apeksnya pada ruang intercosta kelima kiri pada linea midclavikula.
Hubungan jantung
adalah:
a) atas: pembuluh darah besar
b) bawah: diafragma
c) setiap sisi: paru-paru
d) belakang: aorta dessendens, oesopagus,
columna vertebralis
2) Arteri
Adalah tabung yang
dilalui darah yang dialirkan pada jaringan dan organ. Arteri terdiri dari lapisan dalam: lapisan yang licin,
lapisan tengah jaringan elastin/otot: aorta dan cabang-cabangnya besar memiliki
lapisan tengah yang terdiri dari jaringan elastin (untuk menghantarkan darah
untuk organ), arteri yang lebih kecil memiliki lapisan tengah otot (mengatur
jumlah darah yang disampaikan pada suatu organ).
Meningkatnya
tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa cara:
a) Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih
banyak
cairan pada setiap detiknya
b)
Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga mereka
tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut.
Karena itu darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh yang
sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan. Inilah yang terjadi
pada usia lanjut, dimana dinding arterinya telah menebal dan kaku karena
arterosklerosis. Dengan cara yang sama, tekanan darah juga meningkat pada saat
terjadi “vasokonstriksi”, yaitu jika arteri kecil (arteriola) untuk sementara waktu mengkerut karena perangsangan
saraf atau hormon di dalam darah.
c) Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan
meningkatnya tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume darah dalam tubuh meningkat,
sehingga tekanan darah juga meningkat, Sebaliknya, jika:
a) Aktivitas memompa jantung berkurang,
b) arteri
mengalami pelebaran,
c) banyak
cairan keluar dari sirkulasi.
Maka tekanan
darah akan menurun atau menjadi lebih kecil.
Penyesuaian terhadap faktor-faktor tersebut dilaksanakan oleh perubahan di dalam fungsi ginjal dan sistem saraf otonom (bagian dari sistem saraf yang mengatur berbagai fungsi tubuh secara otomatis).
Penyesuaian terhadap faktor-faktor tersebut dilaksanakan oleh perubahan di dalam fungsi ginjal dan sistem saraf otonom (bagian dari sistem saraf yang mengatur berbagai fungsi tubuh secara otomatis).
3) Perubahan fungsi ginjal
Ginjal
mengendalikan tekanan darah melalui beberapa cara:
a) Jika tekanan darah meningkat, ginjal akan menambah
pengeluaran garam dan air, yang akan menyebabkan berkurangnya volume
darah dan mengembalikan tekanan darah ke normal.
b) Jika tekanan darah menurun, ginjal akan mengurangi
pembuangan garam dan air, sehingga volume darah bertambah dan tekanan darah
kembali ke normal
c) Ginjal juga bisa meningkatkan tekanan darah dengan
menghasilkan enzim yang disebut renin, yang memicu pembentukan hormon angiotensin, yang selanjutnya akan memicu pelepasan hormon aldosteron.
Ginjal
merupakan organ penting dalam mengendalikan tekanan darah, karena itu berbagai
penyakit dan kelainan pada ginjal bisa menyebabkan terjadinya tekanan darah
tinggi. Misalnya penyempitan arteri yang menuju ke salah satu ginjal (stenosis
arteri renalis) bisa menyebabkan hipertensi. Peradangan dan cedera pada salah
satu atau kedua ginjal juga bisa menyebabkan naiknya tekanan darah.
4) Arteriol
Adalah
pembuluh darah dengan dinding otot polos yang relatif tebal.
Otot dinding arteriol dapat berkontraksi. Kontraksi
menyebabkan kontriksi diameter pembuluh darah. Bila kontriksi bersifat lokal,
suplai darah pada jaringan/organ berkurang. Bila terdapat kontriksi umum,
tekanan darah akan meningkat.
5) Pembuluh darah utama dan kapiler
Pembuluh darah
utama adalah pembuluh berdinding tipis yang berjalan langsung dari arteriol ke
venul. Kapiler adalah jaringan pembuluh darah kecil yang membuka pembuluh darah
utama
6) Sinusoid
Terdapat
limpa, hepar, sumsum tulang dan kelenjar endokrin. Sinusoid tiga sampai empat
kali lebih besar dari pada kapiler dan sebagian dilapisi dengan sel sistem
retikulo-endotelial. Pada tempat adanya sinusoid, darah mengalami kontak
langsung dengan sel-sel dan pertukaran tidak terjadi melalui ruang jaringan
7) Vena dan venul
Venul adalah
vena kecil yang dibentuk gabungan kapiler. Vena dibentuk oleh gabungan venul.
Vena memiliki tiga dinding yang tidak berbatasan secara sempurna satu sama lain.
b. Fisiologi
Jantung
mempunyai fungsi sebagai pemompa darah yang mengandung oksigen dalam sistem
arteri, yang dibawa ke sel dan seluruh tubuh untuk mengumpulkan darah
deoksigenasi (darah yang kadar oksigennya kurang) dari sistem vena yang dikirim
ke dalam paru-paru untuk reoksigenasi (Black, 2010).
2.2
Definisi
Hipertensi didefinisikan oleh
Joint National Commitee on Detection, Evaluation and Treatment of High Blood
Pressure (JNC) sebagai tekanan yang lebih tinggi dari 140/90 mmHg dan diklasifikasikan sesuai derajat keparahannya,
mempunyai rentang dari tekanan darah (TD) normal tinggi sampai hipertensi
maligna. Keadaan ini dikategorikan sebagai primer/esensial (hampir 90 % dari
semua kasus) atau sekunder, terjadi sebagai akibat dari kondisi patologi yang
dapat dikenali, sering kali dapat diperbaiki (Marilynn E. Doenges, dkk, 1999).
Hipertensi merupakan keadaan
ketika tekanan darah sistolik lebih dari 120 mmHg dan tekanan diastolik lebih
dari 80 mmHg. Hipertensi sering menyebabkan perubahan
pada pembuluh darah yang dapat mengakibatkan semakin tingginya tekanan darah (Arif
Muttaqin, 2009).
Menurut Bruner dan Suddarth (2001)
hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan
sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg. Pada
populasi manula, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik di atas 160
mmHg dan tekanan diastolik di atas 90 mmHg.
Sehingga dapat disimpulkan
bahwa hipertensi adalah meningkatnya tekanan sistolik sedikitnya 140 mmHg dan
diastolik sedikitnya 90 mmHg.
2.3 Klasifikasi
Klasifikasi tekanan darah
menurut JNC 7 (2003) dapat dilihat pada tabel berikut:
|
Klasifikasi
|
Tekanan Sistolik
(mmHg)
|
Tekanan Diastolik
(mmHg)
|
|
Normal
|
<120
|
<80
|
|
Prehipertensi
|
120-139
|
80-89
|
|
Hipertensi stage I
|
140-150
|
90-99
|
|
Hipertensi stage II
|
>150
|
>100
|
(Arif
Muttaqin, 2009).
Klasifikasi
Hipertensi menurut WHO:
|
Kategori
|
Sistol (mmHg)
|
Diastol (mmHg)
|
|
Optimal
|
<120
|
<80
|
|
Normal
|
<130
|
<85
|
|
Tingkat I (hipertensi ringan)
|
140-159
|
90-99
|
|
Sub group: Perbatasan
|
140-149
|
90-94
|
|
Tingkat 2 (Hipertensi Sedang)
|
160-179
|
100-109
|
|
Tingkat 3 (Hipertensi Berat)
|
>180
|
>110
|
|
Hipertensi Sistol terisolasi
|
>140
|
<90
|
|
Sub group: Perbatasan
|
140-149
|
<90
|
(Andy Sofyan, 2012)
Klasifikasi Hipertensi
Hasil Konsensus Perhimpunan Hipertensi Indonesia
|
Kategori
|
Sistol (mmHg)
|
Dan/Atau
|
Diastol (mmHg)
|
|
Normal
|
<120
|
Dan
|
<180
|
|
Pre Hipertensi
|
120-139
|
Atau
|
80-89
|
|
Hipertensi Tahap I
|
140-159
|
Atau
|
90-99
|
|
Hipertensi Tahap II
|
≥160
|
Atau
|
≥100
|
|
Hipertensi Sistol Terisolasi
|
≥140
|
Dan
|
<90
|
(Andy Sofyan, 2012)
2.4 Etiologi
a.
Elastisitas
dinding aorta menurun
b.
Katub jantung menebal dan menjadi kaku
c.
Kehilangan
elastisitas pembuluh darah dan penyempitan lumen pembuluh darah
Klasifikasi hipertensi menurut etiologinya:
a)
Hipertensi
primer : Konsumsi Na terlalu tinggi, Genetik, Stres psikologis
b)
Hipertensi
renalis : keadaan iskemik pada ginjal
c)
Hipertensi
hormonal
d)
Bentuk
hipertensi lain : obat, cardiovascular, neurogenik (Andy Sofyan, 2012)
2.5 Manifestasi Klinis
Sebagian besar
manifestasi klinis timbul setelah mengalami hipertensi bertahun-tahun, dan
berupa:
a.
Nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah, akibat
peningkatan tekanan darah intrakranium
b.
Penglihatan kabur akibat kerusakan retina karena hipertensi
c.
Ayunan langkah yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf pusat
d.
Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerulus
e.
Edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler
f.
Kadang
penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma karena
terjadi pembengkakan otak. Keadaan
ini disebut ensefalopati hipertensif, yang memerlukan penanganan segera.
(Elizabeth J.
Corwin, 2000)
2.6 Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan
relaksasi pembuluh darah terletak di pusat vasomotor, pada medula di otak. Dari
pusat vasomotor ini bermula pada sistem
saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari
kolumna medula spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan
pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui
sistem saraf simpatis ke ganglia simpatis.
Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan
asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh
darah, dimana dengan dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan konstriksi
pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat
mempengaruhi respons pembuluh darah terhadap rangsangan vasokonstriktor.
Individu dengan hipertensi sangat sensitif terhadap norepinefrin, meskipun
tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf
simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi. Kelenjar
adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi.
Medulla adrenal mensekresi epineprin, yang menyebabkan vasokonstriksi.
Korteks adrenal mensekresi kortisol dan
streroid lainnya, yang dapat memperkuat
respons vasokonstriksi pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan
penurunan aliran darah ke ginjal, menyebabkan pelepasan renin. Renin merangsang
pembentukan angiotensin
I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstrikstriktor kuat.
Yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. hormon ini menyebabkan
retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume
intravaskuler. Semua faktor tersebut cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.
Pertimbangan gerontologis. Perubahan struktur dan
fungsional pada sistem perifer bertanggung jawab pada perubahan tekanan darah
yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi arterosklerosis,
hilangnya elastisistas jaringan ikat, dan penurunan dalam relaksasi otot polos
pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang
pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya
dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup),
mengakibatkan penurunan curah jantung dan peningkatan tahanan parifer (Bruner
dan Suddarth, 2001).
2.7 Pathway
Terlampir
2.8 Komplikasi
Komplikasi yang akan terjadi akibat dari
hipertensi adalah sebagai berikut:
a.
Stroke dapat timbul akibat perdarahan tekanan tinggi di otak, atau akibat
embolus yang terlepas dari pembuluh non otak yang terpajan tekanan tinggi.
Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronik apabila arteri-arteri yang
memperdarahi otak mengalami hipertrofi dan menebal, sehingga aliran darah ke
daerah-daerah yang diperdarahinya berkurang. Arteri-arteri otak yang mengalami
arterosklerosis dapat melemah sehingga meningkatkan kemungkinan terbentuknya
aneurisma.
b.
Dapat terjadi infark miokardium apabila arteri koroner yang arterosklerotik
tidak dapat menyuplai cukup oksigen ke miokardium atau apabila terbentuk
trombus yang menghambat aliran darah melalui pembuluh tersebut. Karena hipertensi
kronik dan hipertrofi ventrikel, maka kebutuhan oksigen miokardium mungkin tidak
dapat dipenuhi dan dapat terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark.
Dengan demikian juga, hipertrofi ventrikel dapat menimbulkan
perubahan-perubahan waktu hantaran listrik melintasi ventrikel sehingga terjadi
disritmia, hipoksia jantung, dan peningkatan resiko pembentukan bekuan.
c.
Dapat terjadi gagal ginjal karena kerusakan progresif akibat tekanan tinggi
pada kapiler-kapiler ginjal, glomerulus. Dengan rusaknya glomerulus, darah akan
terganggu dan dapat berlanjut menjadi hipoksik dan kematian. Dengan rusaknya
glomerulus, protein akan keluar melalui urin, sehingga tekanan osmotik koloid
plasma berkurang, menyebabkan edema yang sering dijumpai pada hipertensi
kronik.
d.
Ensefalopati (kerusakan otak) dapat terjadi, terutama pada hipertensi
maligna (hipertensi yang meningkat cepat). Tekanan yang sangat tinggi pada
kelainan ini menyebabkan peningkatan tekanan kapiler dan mendorong cairan
kedalam ruang interstisium diseluruh susunan saraf pusat. Neuron-neuron
disekitarnya kolaps dan terjadi koma serta kematian.
e.
Wanita dengan PIH dapat mengalami kejang. Bayi yang lahir mungkin memiliki
berat badan lahir rendah akibat perfusi plasenta yang tidak adekuat, dapat
mengalami hipoksia dan asidosis apabila ibu mengalami kejang selama atau
sebelum proses persalinan.
(Elizabeth J.
Corwin, 2000)
2.9 Pemeriksaan Penunjang
a.
Hb/Ht : untuk
mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat
mengindikasikan faktor resiko seperti: hipokoagulabilitas, anemia.
- BUN/kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi/fungsi ginjal. Normalnya 8 sampai 24 mg/dL untuk pria dewasa (2,86 mmol ke 8.57/L) dan 6 sampai 21 mg/dL (2,14-7,50 mmol/L) untuk wanita dewasa.
- Glukosa : Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan oleh pengeluaran kadar katekolamin.
- Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal dan ada DM.
- CT Scan : Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati.
- EKG : Dapat menunjukan pola regangan, dimana luas, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi, Adanya pembesaran ventrikel kiri, pembesaran atrium kiri, adanya penyakit jantung koroner atau aritmia.
- IVP : mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti : Batu ginjal, perbaikan ginjal.
- Photo dada : Menunjukan destruksi kalsifikasi pada area katup, pembesaran jantung (Doenges, dkk. 1999).
2.9 Penatalaksanaan Medis
Tujuan penatalaksanaan medis pada klien
dengan hipertensi adalah mencegah terjadinya morditas dan mortilitas peserta dengan
mencapai dsn mempertahankan tekanan darah dibawah 140/90 mm/Hg. Efektivitas
setiap program ditentukan oleh derajat hipertensi, komplikasi, biaya perawatan,
dan kualitas hidup sehubungan dengan terapi.
Untuk mengobati hipertensi, dapat
dilakukan penurunan kecepatan denyut jantung, volume sekuncup, TPR. Intervensi
farmokologis dan non farmokologis dapat membantu seseorang mengurangi tekanan
darahnya.
a. Pada sebagian orang, penurunan berat
tampaknya mengurangi tekanan darah, dengan mengurangi beban kerja jantung sehingga
kecepatan denyut dan volume sekuncup juga berkurang.
b. Olah raga, terutama bila disertai
penurunan berat, menurunkan tekanan darah dengan menurunkan kecepatan denyut
jantung istirahat dan mungkin TPR. Olah raga meningkatkan HDL, yang dapat
mengurangi timbulnya hipertensi yang terkait-arterosklerosis
c. Teknik relaksasi dapat mengurangi denyut
jantung dan TPR dengan cara mnghambat respon stres saraf simpatis.
d. Berhenti merokok penting untuk
mengurangi efek jangka panjang hipertensi karena asap rokok diketahui
menurunkan aliran darah ke
berbagai organ dan dapat meningkatkan
kerja jantung.
e. Diuretik bekerja melalui berbagai mekanisme
untuk mengurangi curah jantung dengan menyebabkan ginjal meningkatkan ekresi garam dan
airnya. Sebagian diuretic (tiazid) tampaknya juga menurunkan TPR.
f. Penghambat saluran kalsium menurunkan
kontraksi otot polos jantung dan/atau arteri dengan menginerfensi influks untuk
kalsium yang dibutuhkan untuk kontraksi
. sebagian penghambat kalsium bersifat lebih spesifik untuk saluran lambat
kalsium otot jantung, sebagian yang lain lebih spesifik untuk saluran kalsium
otot vaskular. Dengan demikian, berbagai penghambat kalsium memiliki kemampuan
yang berbeda-beda dalam menurunkan kecepatan denyut jantung, volume sekuncup,
dan TPR.
g. Penghambat
enzim pengubah angiotesin II (inhibitor ACE) berfungsi untuk menurunkan
angiotensin II dengan menghambat enzim yang diperlukan untuk mengubah
angiotensin I menjadi angiotensin II. Hal ini menurunkan tekanan darah baik
secara langsung menurunkan TPR, dank arena angiotensin II diperlukan untuk
sintesis aldosteron, maupun dengan meningkatka pengeluran natrium melalui urin
sehingga volume plasma dan curah jantung menurun. Karena enzim pengubah dan
menurunkan tekanan darah dengan memperpnjang efek bradikinin.
h. Antagonis (penyekat) reseptor-beta,
terutama penyekat β1 selektif, bekerja pada reseptor bata di jantung
untuk menurunkan keepatan denyut dan curah jantung.
i.
Antagonis
reseptor-alfa di otot polos vascular yang secara normal berespons terhadap
rangsangan simpatis dengan vasokontriksi. Hal ini akan menurunkan TPR.
Dapat digunakan
vasolodilator arteriol langsung untuk menurun TPR.
BAB
III
ASUHAN
KEPERAWATAN
3.1
Pemeriksaan Fisik
Melakukan pengkajian:
a. Identitas pasien: nama, umur, jenis
kelamin, suku, pekerjaan
b. Riwayat
1) Riwayat kesehatan keluarga
2) Riwayat penyakit dahulu
3) Riwayat penyakit sekarang
4) Manifestasi klinis penyakit jantung
seperti dyspnea,
angina
5) Kebiasaan sehari-hari: nutrisi,
istirahat, olah raga
6) Faktor psikologis dan lingkungan: stes
emosional, budaya makan, dan status ekonomi
7) Faktor risiko
8) Riwayat alergi
9) Riwayat pemakaian obat: pil KB, steroid,
NSAID
c. Pemeriksaan fisik
1) Berat badan dan tinggi badan.
2) Mata: pemeriksaan funduskopi untuk
penyempitan retinal arteriol, perdarahan, eksudat dan papill edema
3) Leher: JVP, bising karotis dan
pembesaran thyroid
4) Paru: pernapasan (irama, frekuensi,
jenis suara napas)
5) Jantung: denyut jantung, suara jantung,
bising jantung. Tekanan darah diukur minimal 2 kali dengan tenggang waktu 2
menit dalam posisi berbaring atau duduk, dan berdiri sekurangnya setelah 2
menit. Pengukuran menggunakan yang sesuai, dan sebaiknya dilakukan pada kedua sisi
lengan, dan jika nilainya berbeda maka nilai yang tertinggi yang diambil
6) Abdomen: bising, pembesaran ginjal
7) Ekstremitas: lemahnya atau hilangnya
nadi parifer, edema
8) Neurologi: tanda thrombosis cerebral dan
perdarahan
d. Pemeriksaan penunjang
1) EKG: adanya pembesaran ventrikel kiri,
pembesaran atrium kiri, adanya penyakit jantung koroner atau aritmia
2) Hemoglobin/hematokrit: bukan diagnostik
tetapi mengkaji hubngan dari sel-sel terhadap terhadap volume cairan(viskositas)dan
dapat mengindikasikan faktor-faktor risiko seperti hiperkogulabilitas, anemia
3) BUN/kreatinin: memberikan informasi
tentang perfusi/fungsi ginjal
4) Glukosa: hiperglikemia (Diabetes
Millitus adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan oleh peningkatan kadar
katekolamin (meningkatkan hipertensi)
5) Kalium serum: hipokalemia dapat
mengindikasikan adanya aldosteron utama (penyebab) atau menjadi efek samping
terapi diuretic
6) Kalsium serum: peningkatan kadar kalsium
serum dapat meningkatkan hipertensi
7) Kolesterol dan trigliserida serum:
peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk/adanya pembentukan plak
ateromatosa (efek kardiovaskuler)
8) Asamm urat: hiperurisemia telah menjadi
implikasi sebagai faktor risiko terjadinya hipertensi
9) Foto rontgen: adanya pembesaran jantung,
vaskularisasi atau aorta yang melebar
10) Echocardiogram: tampak adanya penebalan
dinding ventrikel kiri, mungkin juga sudah terjadi dilatasi dan gangguan fungsi
sistolik dan diastolik (Diklat PJT-RSCM, 2008).
3.2 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa
keperawatan untuk klien hipertensi mencakup:
a.
Penurunan curah
jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vaskonstriksi, iskemia
miokard, hipertropi ventricular
b.
Nyeri (sakit
kepala) berhubungan dengan peningkatan tekanan vasculer serebral
c.
Intoleransi
aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen (Doenges, dkk. 1999).
3.3 Intervensi dan Rasional Tindakan
Rencana asuhan
keperawatan pada pasien dengan hipertensi adalah sebagai berikut:
a.
Penurunan curah
jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia
miokard, hipertropi ventrikelar
Tujuan: setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 2x24 jam diharapkan masalah penurunan curah jantung dapat
teratasi dengan kriteria hasil:
1)
mempertahankan
tekanan darah dalam rentang individu yang dapat diterima
2)
berpartisipasi
dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah atau kerja jantung
3)
memperlihatkan
irama dan frekuensi jantung stabil dalam rentang normal pasien
|
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
|
Pantau tekanan darah. Ukur pada kedua tangan/paha
untuk evaluasi awal. Gunakan ukuran manset yang tepat dan teknik yang akurat.
|
Perbandingan dari tekanan memberikan gambaran
yang lebih langkap tentang keterlibatan/bidang masalah vaskuler. Hipertensi
berat diklasifikasikan pada orang dewasa sebagai peningkatan tekanan
diastolik sampai 130 mmHg, hasil pengukuran diastolik di atas 130 mmHg
dipertimbangkan sebagai peningkatan pertama, kemudian maligna. Hipertensi
sistolit juga merupakan faktor risiko yang ditentukan untuk penyakit
serebrovaskular dan penyakit iskemi jantung bila tekanan diastolik 90-115
|
|
Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan
parifer
|
Denyutan karotis,jugularis, radialis dan
femoralis mungkin teramati/terpalpasi. Denyut pada tungkai mungkin menurun,
mencerminkan efek dari vasokonstriksi (peningkatan SVR) dan kongesti vena
|
|
Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas
|
S4 umum terdengar pada pasien
hipertensi berat karena adanya hipertropi atrium (peningkatan volume/tekanan
atrium). Perkemba-
ngan S3
menunjukkan hipertropi ventrikel dan kerusakan fungsi. Adanya krakles,
mengindikasikan kongesti paru sekunder terhadap terjadinya atau gagal jantung
kronik.
|
|
Amati warna kulit, kelembaban, suhu, dan masa
pengisian kapiler
|
Adanya pucat, dingin, kulit lembab dan masa
pengisian kapiler lambat mungkin berkaitan dengan vasokonstriksi atau
mencerminkan dekompensasi/penurunan curah jantung.
|
|
Catat edema umum/tertentu
|
Dapat mengindikasi gagal jantung, kerusakan
ginjal atau vaskular
|
|
Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi
aktivitas/keributan lingkungan. Batasi jumlah pengunjung dan lamanya tinggal
|
Membantu menurunkan rangsang simpatis
meningkatkan relaksasi
|
|
Pertahankan pembatasan aktivitas, seperti:
istirahat di tempat tidur/kursi, jadwalperiode istirahat tanpa gangguan,
bantu pasien melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan
|
Menurunkan stres dan ketegangan yang mempengaruhi
tekanna darah dan perjalanan peyakit hipertensi
|
|
Lakukan tindakan-tindakan yang nyaman, seperti: pijatan
punggung dan leher, meninggikan kepala tempat tidur
|
Mengurangi ketidaknyamanan dan dapat menurunkan
rangsang simpatis
|
|
Anjurkan teknik relaksasi, panduan imajinasi,
aktivitas pengalihan
|
Dapat menurunkan rangsangan yang menimbulkan stres,
membuat efek tenang, sehingga akan menurunkan TD
|
|
Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol
takanan darah
|
Respon terhadap terapi obat “stepped” (yang
terdiri dari atas diuretik, inhibitor simpatis dan vasodilator) tergantung
pada individu dan efek sinergis obat. Karena efek samping tersebut, maka
penting untuk menggunakan obat dalam jumlah paling sedikit dan dosis paling
rebdah
|
|
Kolaborasi:
Berikan obat-obat sesuai indikasi, contoh:
Diuretic tiazin, misalnya: kortikosteroid
(diuri), hidroklorotiazid (esidrix/hidroDIURIL), bendroflumentiazid
(Naturetin)
|
Tiazid mungkin digunakan sendiri atau dicampur
dengan obat lain untuk menurunkan TD pada pasien dengan fungsi ginjal yang relative
normal. Diuretic ini memperkuan agen-agen antihipertensif lain dengan
membatasi retensi cairan.
|
|
Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai
indikasi
|
Pembatasan ini dapat menangani retensi cairan
respon hipertensif, dengan demikian menurunkan kerja jantung
|
b.
Nyeri (sakit
kepala) berhubungan dengan peningkatan tekan vasculer serebral
Tujuan: setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 1x24 jam diharapkan masalah nyeri teratasi dengan kriteria
hasil:
1)
Melaporkan
nyeri/ketidaknyamanan terkontrol
2)
Mengikuti regimen
farmakologi yang diresepkan
|
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
|
Mempertahankan tirah baring selama fase akut
|
Meminimalkan stimulasi/meningkatkan relaksasi
|
|
Berikan tindakan nonfarmakologi untuk
menghilangkan sakit kepala, missal: kompres dingin pada dahi, pijat punggung
dan leher, tenang, redupkan lampu kamar, teknik relaksasi (panduan imajinasi,
distraksi) dan aktivitas waktu senggang
|
Tindakan yang menurunkan tekanan vaskular
serebral
dan yang
memperlambat atau memblok respon simpatis efektif dalam menghilangkan sakit
kepala dan komplikasinya
|
|
Hilangkan/minimalkan
aktivitas vasokonstriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala, misalnya
mengejan saat BAB, batuk panjang, membungkuk
|
Aktivitas yang meningkatkan vasokonstriksi
menyebabkan sakit kepala pada adanya peningkatan tekanan vaskularserebral
|
|
Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan
|
Pusing dan penglihatan kabur sering berhubungan
dengan sakit kepala. Pasien juga dapat mengalami episode hipotensi postural
|
|
Berikan cairan, makanan lunak, perawatan mulut
yang teratur bila terjadi perdarahan hidung atau kompres hidung telah
dilakukan untuk menghentikan perdarahan
|
Meningkatkan kenyamanan umum. Kompres hidung dan
mengganggu menelan atau membutuhkan napas dengan mulut, menimbulkan stagnasi
sekresi oral dan menger membran mukosa
|
|
Kilaborasi:
Berikan sesuai indikasi: anlgesik
|
Menurunkan/mengontrol nyeri dan menurunkan
rangsang sistem saraf simpatis
|
|
Antiansieta, missal lorazepam (ativan), diazepam
(valium)
|
Dapat mengurangi tegangan dan ketidaknyamanan
diperberat oleh stres
|
c.
Intoleransi
aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen
Tujuan: setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 2x24 jam diharapkan masalah intoleransi aktivitas teratasi
dengan kriteria hasil:
1)
Peningkatan dalam
toleransi aktivitas yang dapat diukur
2)
Menunjukkan penurunan
dalam tanda-tanda intoleransi fisiologi
3)
Berpartisipasi
dalam aktivitas yang diinginkan/diperlukan
|
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
|
Kaji respons pasien terhadap aktivitas,
perhatikan frekuensi nadi lebih dari 20 kali permenit di atas frekuensi
istirahat, peningkatan TD yang nyata selama/sesudah aktivitas (tekanan
sistolik meningkat 40 mmHg atau tekanan diastolik meningkat 20 mmHg), dispnea
atau nyeri dada, keletihan dan kelemahan yang berlebihan, diaphoresis, pusing
atau pingsan
|
Menyebutkan parameter membantu dalam mengkaji
respons fisiologi terhadap stress aktivitas dan bila ada merupakan indikator
dari kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktivitas
|
|
Instruksikan pasien tentang teknik penghematan
energi, missal: menggunakan kursi saat mandi, duduk saat menyisir rambut atau
menyikat gigi, melakukan aktivitas dengan perlahan
|
Teknik menghemat energi mengurangi penggunaan
energi, juga membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
|
|
Berikan dorongan untuk melakukan
aktivitas/perawatan diri terhadap jika dapat ditoleransi. Berikan bantuan
sesuai kebutuhan.
|
Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan
kerja jantung tiba-tiba. Memberikan bantuan hanya sebatas kebutuhan akan
mendorong kemandirian dalam melakukan aktivitas.
|
(Doenges, dkk. 1999)
BAB
IV
PENUTUP
4.1 Simpulan
Hipertensi adalah meningkatnya tekanan sistolik
sedikitnya 140 mmHg dan diastolik sedikitnya 90 mmHg.
Hipertensi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
Faktor genetik, Usia, keadaan emosi seseorang, konsumsi Na terlalu tinggi,
Obat, Hormonal, Neurologik ,dll.
Orang yang sugah terkena hipertensi dapat juga mengalami
banyak komplikasi yang diderita, diantaranya Stroke, kebutaan, angina pectoris,
CHF, gagal ginjal, infark miokard, dll.
4.2 Saran
Untuk menghindari terjadinya hipertensi, maka sebaiknya
kita selaku petugas medis sebaiknya memberi contoh masyarakat untuk menerapkan
perilaku hidup bersih dan sehat, dan juga tidak mengkonsumsi makanan
sembarangan yang belum teruji kesehatannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Bruner
dan Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Edisi 8 vol.2.
Jakarta: EGC.
Copstead
C., Lee-Ellen dan Jacquelyn L. Banasik. 2005. Pathophysiology Vol. 1. Elsevier :St. Louis Missouri 63146.
Diklat PJT–RSCM. 2008. Buku Ajar Keperawatan Kardiologi
Dasar Edisi 4. Jakarta: RSCM.
Doenges,
Marilynn E., dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan
Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC.
Muttaqin,
Arif. 2009. Asuhan Keperawatan Dengan Pasien Gangguan Kardiovaskuler. Jakarta:
Salemba Medika.
Sofyan,
Andy. 2012.
Hipertensi. Kudus.
Corwin, J Elizabeth. 2000. Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Dari referensi yg saya baca di udoctor.co.id, penanganan hipertensi salah satunya dengan Diet dan nutrisi : diet yang rendah sodium dan tinggi kalium dianjurkan untuk mengurangi hipertensi. Diet yang mempromosikan konsumsi buah-buahan, sayuran, dan rendah garam seperti diet DASH (Intervensi diet untuk Hipertensi)
BalasHapus